Jumat, 09 Juli 2010

Mimpi Untuk Terbang


Siang itu aku memandangi jalanan lewat jendela bis. Angin berhembus sepoi-sepoi. Tak ada yang spesial di dalam bus itu. Hanya hati dan pikiranku yang melayang pergi. Setelah dari Plasa Balikpapan, rombongan kami akan ke pantai Lamaru. Ku pikir ini hanyalah perjalanan biasa yang akan ditempuh kurang lebih setengah jam. Suara riuh teman-teman pun makin tak terdengar dikarenakan rasa bosan selama perjalanan.

Sepanjang perjalanan sebisa mungkin aku menghapal jalan agar suatu saat nanti aku bisa pergi ke laut seorang diri. Bagiku laut merupakan tempat tersimpannya kenangan, dan salah satu sarana penghubung makhluk yang terpisah jauh. Hanya dengan memandang laut luas, mimpi itu terasa meluap muncul dari dalam dada.

Aku tak menyangka bila perjalanan itu akan melewati bandara. Begitu bis melewati bandara, ku pandang lekat-lekat bandara itu dan tak terasa bulir bening di ujung mata hampir ikut meluap keluar bersana kenangan yang selama ini tertutup rapat. Bandara, ya bandara. Pikiranku terbang ke mimpi yang tak tergapai. Mimpi untuk menjadi seorang pilot ataupun hanya sekedar bisa melihat pesawat setiap hari. Burung besi raksasa itu menyita perhatianku sejak bertahun-tahun lalu. Mimpi itu hadir, impian itu meluap, cita-cita itu terlihat jelas. Namun karena fitrah dan takdir-NYA, ku pendam mimpi itu dalam-dalam. Mimpi untuk bisa berada di langit yang luas. Langit yang menenangkan hati.


Bandara, tempat awal kita berangkat ke suatu tempat lain yang jauh menurut jangkauanku. Terbayang jika suatu saat nanti aku akan berpamitan dengan keluarga, menjemput mimpi. Mimpi untuk melihat dunia. Aku berlari menuju pesawat dengan wajah bahagia, karena dunia menunggu kehadiranku. Akan ada banyak yang ku lihat, akan ada banyak orang ku temui, ada banyak tempat yang akan ku kunjungi. Dan sekali lagi ku kubur impian ku itu dengan alasan yang sedikit memaksa, berbakti pada orang tua. Teringat pula peringatan dari kakak pertama tentang kesahatan orang tua bila aku tetap berkeras menjemput mimpi itu. Ku harap mimpi melihat dunia itu segera hilang dari lubuk hati yang terdalam.


Bandara, atau mungkin burung besi raksasanya yang menyita perhatianku kala itu yang sesaat kemudian impian itu harus terkubur dalam hati yang terdalam. Ku coba menghibut diri. Mencari yang pasti. Yang pasti lebih membahagiakan daripada dekat dengan burung besi raksasa ataupun terbang di antara awan di langit yang tinggi di sana. Ku berpikir keras namun senandung lagu sedih, miris menggores hati. Ingin ku berlari menuju mimpi itu namun sayapku telah patah. Menyesalinya pun tak kan mengembalikan sayap itu. Mengobatinya hingga menjadi sayap yang utuh pun terasa mustahil. Mungkin tak ada harapan. Dan senyum itupun berhenti untuk sesaat.


Ku pejamkan mata, ku coba pahami arti dari sayap ini. Ku coba menerima sayap yang tak lagi sempurna ini. Dengan mata tetap terpejam, ku coba melangkah, jauh, jauh. Lalu aku melihat cahaya itu. Cahaya yang memberiku mimpi lagi, memberi harapan pasti akan janji-NYA.

Ada yang lebih pasti dibanding masa depan yang tak terlihat, tak pasti. Janji-NYA. Ada yang lebih indah dibanding terbang di langit luas, bukankah terbang di surga lebih indah lagi. Dan di surga tak kan ada rasa lelah karena telah bekerja bersama burung besi raksasa itu. Karena sayap yang telah diberikan oleh-NYA. Dan tak perlu khawatir akan jatuh kerena rasa khawatir akan hilang dari dalam dada penghuni surga.

Mimpi itu kembali membuncah di dalam dada. Mimpi yang lain. Mimpi yang percaya akan janji-NYA. Mimpi yang membutuhkan pengorbanan lebih besar daripada pengorbanan untuk menjadi seorang pilot. Mimpi untuk terbang di surga sambil bergandengan tangan bersama orang-orang yang ku cintai. Akhirnya mimpi itu bangun dan walaunpun terkadang ketika menjalani akan penuh uraian air mata namun hati ku ingin melangkah di jalan itu. Menikmati manisnya iman dalam hati. Menikmati saat-saat penuh barakah bersama orang-orang yang kucintai. Lalu, akupun tersenyum kecil. Senyum bahagia. Ku pejamkan mataku, kunikmati rasa perjalanan ini. Lalu sambil menatap gerbang bandara aku berkata “Bawalah semua mimpiku bersama hembusan angin ke langit yang luas, laut yang terbentang”. Senyum kecil itu masih terlihat dan akan terlihat lagi, segera… =’) Bis pun tetap melanjutkan perjalanan, meninggalkan bandara dan semua mimpi ku…

1 komentar:

  1. komen... itu ada sedikit typo.. =A=
    terus aq agak gak ngerti.. Dx
    terus lagi penggunaan ku- itu gak pake sepasi ka,.. contohnya ku pejamkan itu bukannya harusnya kupejamkan? =?
    yah,, bukan maksudnya nge-flame sih.. tapi katanya harus ninggalin jejak kan? =A=
    emang kapan kk ke bandara? =?

    -Rena(?)-

    BalasHapus

Yang baca wajib coment.. ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...